Posted by: sorecerah on: Agustus 20, 2009
Masalah gizi (malnutrition) adalah gangguan pada beberapa segi kesejahteraan perorangan dan atau masyarakat yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan akan gizi yang diperoleh dari makanan. Masalah gizi berkaitan erat dengan masalah pangan.
Jenis masalah gizi makro yang masih terjadi di Indonesia adalah Kurang Energi Protein (KEP). KEP merupakan masalah kurang gizi akibat konsumsi pangan yang tidak cukup mengandung energi dan protein serta karena gangguan kesehatan. Manifestasi KEP dapat ditentukan dengan mengukur status gizi.
Masyarakat mengenal KEP dengan istilah busung lapar atau HO (honger oedeem). Penderita mempunyai berat badan rendah menurut tinggi badan karena kelaparan. Dalam keadaan sakit, terdapat gejala pembengkakan karena timbunan cairan tubuh (oedeem) di sebagian badan (terutama kaki, perut, muka). HO terjadi karena kurang protein dan kurang energi.
Balita yang kurus sekali karena kurang energi disebut marasmus. Sedangkan KEP akut atau HO pada balita dikenal sebagai kwarsikor. Di Indonesia hal tersebut sering ditemukan secara bersamaan menjadi Marasmus Kwarsikor .
Perubahan pola makan dari pola makan sehat menjadi pola makan cepat saji telah terjadi di masyarakat kita karena makin lama, waktu 24 jam tidak cukup rasanya untuk melakukan sesuatu sehingga saat ini semua yang bersifat praktis cenderung di minati oleh masyarakat. Dalam makanan balita sekarang ini cenderung lebih bersifat instant tanpa dilihat lagi kandungan gizinya padahal harusnya para ibu menyadari pentingnya gizi bagi balitanya. Ibu-ibu cenderung bersikap rendah diri bila masih terlihat balitanya diberikan makanan buatan sendiri dengan asumsi kandungan gizinya lebih lengkap, sehingga balita yang tumbuh cenderung lebih sehat dan tahan terhadap serangan penyakit. Terkadang dalam pembuatan makanan untuk balita ibu-ibu lebih sering menambahkan ikan laut daripada bahan pangan lain seperti ayam atau daging. Ikan laut sering dipilih karena selain harganya murah juga kandungan gizi untuk kecerdasan otak dan pertumbuhan cenderung lebih lengkap.
disebutkan bahwa persyaratan “bergizi tinggi” dimiliki oleh ikan. Pada daging ikan dapat dijumpai senyawa-senyawa yang sangat berguna bagi manusia, yaitu protein, lemak, sedikit karbohidrat, vitamin, dan garam-garam mineral. Komponen protein merupakan komponen terbesar kedua setelah air, dan karena jumlahnya yang cukup banyak, maka ikan merupakan sumber protein hewani yang sangat potensial.
Protein yang ada pada ikan diperoleh berbagai asam amino esensial dan non-esensial. Pemanfaatan protein ikan akan lebih tepat sasaran selain itu ikan mempunyai harga yang lebih terjangkau oleh masyarakat.
Dalam pembuatan biskuit ikan, bahan-bahan yang digunakan antara lain adalah tepung ikan, tepung terigu, garam, telur, mentega, susu skim, maizena, dan gula.
Prinsip dasar pembuatan biskuit adalah pencampuran bahan, penipisan adonan, pencetakan dan pemanggangan pada suhu 180°C-190°C selama kurang lebih 30 menit.
Pelaksanaan fortifikasi tepung HPI pada kue kering ada dua tahap. Perlunya dilakukan penelitian untuk memilih proporsi tepung HPI yang tepat untuk ditambahkan pada adonan kue. Untuk mendapatkan rasa maka perlu diadakan penelitian dengan berbagai jenis rasa antara lain rasa strawberry, kayu manis, dan coklat.
Seperti halnya produk biskuit lainnya maka, selain mutu organoleptiknya, juga perlu dilakukan analisis gizinya antara lain kadar air dan abu dengan metode gravimetric, protein dengan metode Kjeldahl, lemak dengan metode Soxhlet serta asam amino.